KELAINAN!!

Part Of Me

teripang4

This is my diary, catatan pengalaman hidup yang siapapun boleh membaca jika ingin. Silahkan kutuk, hina, jauhi, ataupun pahami saya, dengan segala apa yang Anda anggap benar, dengan segala kekuatan Tuhan, dengan segala amarah di hati Anda.

Sejak kecil, saya merasa bahwa tidak memiliki minat terhadap sepak bola, seperti anak laki-laki seusia saya. Saya lebih menyukai sastra-sastra klasik, tarian klasik/tradisional dari pada harus menghabiskan berjam-jam di lapangan dengan berpeluh keringat. Saya lebih senang bermain dengan tungku dan panci dibandingkan harus main petasan yang sebenarnya sama-sama main api, dan bahaya untuk usia saya yang belia.

SMP pun sama. Mulai saya puber, saya yakin bahwa saya lebih suka sesama jenis, tapi, puber saya tak terarah. Saya takut menghadapi kenyataan bahwa saya seorang Gay, Homoseks, atau faggot, atau bencong kata orang sini. Karena perilaku saya yang cenderung lemah, kalem, dan tak banyak bicara. Dan tak suka main bola sepak. Saya TAKUT, benar-benar takut…

Lihat pos aslinya 1.638 kata lagi

Sampingan

Cerita Gerangan di Balik Daun

Aku membayang disela isak dedaunan

Tak ada yang merdu untuk itu

Bahkan angan tak ingin ada diantara lipatan awan

Tak mengapa jika dia adalah yang tak pernah kuingat

Tak berjarak

Bahkan, jika aku adalah yang terlalu lama untuk bergerak

Aku sungguh tak ingin berangan

Sebab aku tak tahu dimana dirimu gerangan

Sebab benar kau tak ada di angan

Juga aku tak membawa perasaan

Lantas, kenapa aku masih tertahan?

Apa karena aku seperti kapal besi tua?

Yang hanya rapuh dan butuh sandaran

Lagi pula memang aku tak ingin berangan

Jika saja angin tak membawamu pulang

Jika saja kau hanyalah sebuah kenangan dan serpihan ingatan

Atau jika hanyalah nama yang terlalu selalu tersedia di dalam ingatan

Sebab aku tak mampu hidup hanya dengan khayalan

Maaf Tak Begitu Membantumu

Tak begitu mengertimu,

Tak begitu memahamimu,

Tak begitu mengenalmu,

Tak begitu lihai menebak anganmu

Aku egois, kali ini.

Harusnya aku sadar dari awal, hatimu tak lagi untukku

Yang kita jalani ini,

Entahlah.

Dari kata-katamu

Aku masih mencintaimu, aku ingin bersamamu

Adalah kata paling menghujam nadimu

Bahwa kau memaksa itu agar tak menyakiti aku

Maafkan aku tak segera sadarimu

Maaf aku tak banyak tahu

Kalau hatimu tak lagi milikku

Maaf aku lama tahu

Maaf aku tak begitu membantumu

Aku Tahu Ini Sakit, Aku Paham

Aku tahu ini sakit, ini dosa dan sakit

Ya, aku tegaskan sakit sampai dua kali

Aku ingin memelukmu, diantara ringannya harapan nyata ini padamu

Tapi palsu,

Tak ada yang nyata dari janjimu

Kau mungkin tak paham, apa itu sayang

Apa itu, sakit karena dihianati

Aku mungkin lelah, tapi tetap kucoba melangkah, untuk lututku yang kian berkerut

Berkerut sesaat setelah kau bicara kata sayang dan sejenisnya

Padaku

Ya, tapi nyatanya, setelah maafku, kau tak kunjung baik

Kau melakukannya lagi

Kau tak percaya aku, apa gunanya aku percaya kau kini?

Diam saja, kita diam agar sejenak mereka bersama menuruni gersangnya sayangku

Ah, bukan mereka,

Tapi kalian, agar kalian bahagia melihatku, tersiksa.

Tersiksa menahan apa yang disebut cinta -meski ternyata sampah-

Renunglah, jangan lakukan ini pada yang lain

Itu saja, hanya sebait aku mengingat kau saat berdoa

Hanya Lelaki

yang tak sampai hati melihat pedih

yang bangun tiap pagi untuk mngenang lagi

yang tak sanggup berteriak meski diingini

yang,

sudahlah.

Hanya aku yang melapisi tubuh dengan zirah

Aku berdiri mengutak-atik busuknya pintu hatimu yang berbau wangi

Geli.

Sembari berdiri, kau mengajak aku menyanyi

Menyanyi untuk apa aku disayangi

Untuk kau sakiti

Agar aku tahu dan sadar diri

Siapa aku, dan kamu kini

Enyah saja

Kau lemah dan tak bertulang

Selama kau sakiti aku lagi

Selama itu lagi hatiku makin sayang begini

Ah, nantilah

Sehabis larutnya awan bersama angin

Biar luka ini jadi dingin

Kau Saja

Kau saja

Yang jadi batas hatiku

Yang meredam nafsu dan marahku

Yang menjadi batas kelakuanku

Kau saja

Yang bisa membuatku terlelap di mimpi indah dunia pelangi

Yang membawa skoci lusuh agar samudra terarungi

Yang kuasa penuh meninggikan angan berlebihan ini

Yang ingin kutemui bahkan dalam mimpi

Kau saja

Yang menghabiskan malam tak bersamaku

Kau melihat betapa ia lebih dariku

Dari pada aku yang lusuh

Seperti skoci saat kita melihat mendung ungu

Kau saja

Angin menyayat

Kepedihan berayat-ayat

Kepedihanku tersirat

Tak kau sadari aku selalu dengan bayanganmu

Selalu dengan anganku

Rindukan kamu

Tapi demi sumpahku,

Kulakukan sakitku, agar aku tak seperti yang lalu,

Yang menghempaskanmu, di tepi kali berbulan ungu

Tak Salahkan Kamu Lagi

Angin bederu di pangkuanmu

Mendendangkan perihku, rindu

Kau memeluk sebongkah tubuh

Namun bukan tubuhku

Senar dahan bergesekan

Suara angin malang yang tertahan

Untuk berita kepedihan

Tapi sayang, hasratku padamu serasa terhalang

Kau yang dulu kusayang,

Tiap gerakmu terkenang,

Di sudut mataku yang terhalang,

Sayangku, kau jalang.

Aku gagal melupakanmu

Aku membiarkanmu

Aku tak mengalah padamu

Hanya tak ingin lebih lagi, namaku membebanimu

“Bulan Purnama”-ku.

Malam Minggu Adalah Hari Terkutuk

Hari dimana kenyataan terungkap

Tanpa menjelajah aku menemukan

Hari dimana sahabat, adalah kata subtitusi laknat

Tanpa terdesak aku melihat

Hari dimana kau bukan lagi seperti yang kukenal

Yang meninggikan nafsu diatas logikamu

Hari dimana berciuman denganmu terasa menjijikkan

Aku tahu aku sayang padamu

Hari ini diputuskan,

Kau dan dia akan kujadikan lambang penghianatan.

Kalian orang yang sudah menginjakku begini

Aku akan memberi kalian kejutan.

Kalian akan suka.